Harta yang Disimpan, Amal yang Hilang

Setiap pagi, lelaki itu berangkat paling awal dan pulang paling malam. Hidupnya nyaris hanya berisi angka-angka: keuntungan usaha, target penjualan, investasi, dan rencana memperbesar aset. Di ruang kerjanya tergantung jam mahal dan sertifikat bisnis. Di garasi rumahnya berjajar kendaraan yang dulu hanya hadir dalam mimpi masa muda.
Orang-orang menyebutnya sukses.
Namun ada satu hal yang perlahan hilang dari hidupnya: rasa cukup. Semakin banyak harta terkumpul, semakin besar pula ketakutan kehilangan. Ia mulai menghitung segala sesuatu dengan untung-rugi duniawi.
Membantu orang dianggap beban. Sedekah terasa mengurangi tabungan. Bahkan ketika melihat orang kesulitan, hatinya berkata, “Nanti saja kalau sudah benar-benar kaya.”
Padahal, diam-diam umur terus berjalan.
Dalam kehidupan modern, manusia memang hidup di tengah dorongan untuk terus memiliki lebih banyak. Media sosial dipenuhi ukuran kesuksesan: rumah besar, liburan mahal, kendaraan baru, dan gaya hidup mewah.
Banyak orang akhirnya bekerja tanpa henti demi mengejar pengakuan. Tidak salah menjadi kaya, sebab Islam pun menghargai kerja keras dan kemapanan. Namun masalah muncul ketika cinta dunia memenuhi hati hingga melupakan tujuan akhir kehidupan.
Harta yang seharusnya menjadi alat berubah menjadi tujuan.
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa manusia sering dilalaikan oleh keinginan memperbanyak kekayaan. Ada rasa aman semu ketika rekening bertambah besar. Padahal tidak ada satu pun manusia yang mampu membeli tambahan umur dengan seluruh hartanya.
Ironisnya, banyak orang baru sadar ketika kematian mulai mendekat.
Di ruang rumah sakit, di tengah napas yang melemah, atau saat tubuh terbujur tak berdaya, kesadaran itu datang begitu tajam. Rumah yang dibangun bertahun-tahun harus ditinggalkan. Harta yang dikumpulkan susah payah akan diwariskan. Jabatan hilang seketika bersama berhentinya denyut nadi.
Yang tersisa hanyalah amal.
Betapa menyedihkan jika sepanjang hidup seseorang sibuk menyimpan harta, tetapi miskin sedekah. Rekeningnya penuh, namun tetangganya kelaparan. Bisnisnya berkembang, tetapi ia enggan membantu pendidikan anak yatim. Lemarinya dipenuhi barang mahal, sementara tangannya terasa berat untuk memberi.
Padahal dalam pandangan Islam, harta terbaik bukan yang ditumpuk, melainkan yang dibelanjakan di jalan kebaikan.
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa harta yang benar-benar menjadi milik manusia hanyalah apa yang dimakan, dipakai, dan disedekahkan. Selebihnya akan ditinggalkan. Kalimat itu sederhana, tetapi menampar cara pandang banyak orang hari ini.
Sebab manusia sering merasa sedang mengamankan masa depan dengan menyimpan sebanyak mungkin, padahal bisa jadi justru sedang kehilangan bekal akhirat.
Di sinilah sedekah dan amal jariyah memiliki makna besar. Ketika seseorang membantu sesama, membangun masjid, mewakafkan tanah, mendukung pendidikan, atau memberi makan orang lapar, sesungguhnya ia sedang memindahkan hartanya ke tempat yang lebih aman: kehidupan setelah kematian.
Amal jariyah adalah investasi yang tidak berhenti saat dunia selesai. Pahalanya terus mengalir bahkan ketika tubuh telah terkubur dan nama mulai dilupakan manusia.
Sayangnya, banyak orang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa usia memiliki batas. Mereka menunggu kaya untuk bersedekah, menunggu pensiun untuk beribadah lebih serius, atau menunggu waktu luang untuk peduli pada sesama. Padahal ajal tidak pernah menunggu kesiapan manusia.
Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan. Bekerja keraslah, tetapi jangan biarkan dunia menguasai hati. Milikilah harta, tetapi jangan sampai harta memiliki diri kita. Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan ditanya berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan ke mana hartanya digunakan.
Dan ketika kematian tiba, penyesalan terbesar bukan karena kurang kaya, melainkan karena terlalu banyak menyimpan harta sementara amal justru hilang tanpa bekas.

