Ketika Dunia Menjauh dan Akhirat Mendekat

Langit sore tampak pucat dari jendela kamar rumah sakit itu. Bau obat bercampur suara langkah perawat memenuhi lorong yang lengang. Di atas ranjang, seorang lelaki tua terbaring lemah. Dulu ia dikenal sebagai sosok pekerja keras. Usahanya berhasil, rumahnya besar, anak-anaknya hidup berkecukupan. Namun sore itu, semua yang pernah dibanggakan tampak begitu jauh dari pandangannya.

Tangannya dingin. Napasnya berat dan terputus-putus.

Di sekeliling tempat tidur, keluarga mulai membacakan kalimat talqin dengan suara lirih. Ada yang menahan tangis. Ada yang memandangi monitor detak jantung dengan wajah cemas. Tetapi lelaki itu seperti sedang menghadapi sesuatu yang tidak mampu dilihat siapa pun di ruangan tersebut.

Satu demi satu, dunia mulai menjauh.

Dalam Islam, sakaratul maut bukan sekadar berhentinya kehidupan, melainkan pintu menuju alam yang sepenuhnya berbeda. Pada saat itulah manusia mulai menyadari kenyataan yang selama hidup sering diabaikan. Jabatan tidak lagi berarti. Harta tidak lagi mampu membeli waktu. Relasi dan pujian manusia perlahan kehilangan nilai.

Yang tersisa hanyalah amal.

Banyak ulama menggambarkan detik-detik menjelang kematian sebagai momen terbukanya kesadaran terdalam manusia. Hati yang dulu sibuk mengejar dunia mendadak memahami bahwa hidup ternyata sangat singkat. Apa yang selama ini dianggap penting justru tertinggal begitu saja.

Betapa banyak orang bekerja siang malam demi mengumpulkan kekayaan, tetapi lupa menyiapkan bekal akhirat. Waktu habis untuk memperbesar usaha, mempercantik rumah, atau mengejar status sosial, sementara sedekah sering ditunda. Wakaf dianggap menunggu tua. Membantu sesama baru direncanakan nanti ketika hidup sudah mapan.

Padahal tidak ada manusia yang tahu kapan “nanti” itu berakhir.

Di momen sakaratul maut, penyesalan sering datang terlambat. Manusia berharap diberi sedikit waktu lagi untuk beramal saleh. Ingin kembali untuk bersedekah. Ingin memperbanyak ibadah. Ingin memperbaiki hubungan dengan sesama. Namun hidup tidak berjalan mundur.

Yang membuat hati semakin getir adalah kesadaran bahwa sebagian besar harta yang dikumpulkan semasa hidup akhirnya hanya berpindah tangan. Rumah diwariskan. Kendaraan berganti pemilik. Rekening dibagi ahli waris. Tidak ada yang benar-benar ikut menemani ke alam kubur selain amal yang pernah dilakukan.

Karena itulah Islam sangat menekankan amal jariyah — amal yang pahalanya terus mengalir walau seseorang telah meninggal dunia. Sebuah sumur untuk warga, wakaf tanah, bantuan pendidikan anak yatim, masjid kecil di kampung, mushaf Al-Qur’an, atau ilmu yang bermanfaat, semuanya dapat menjadi cahaya panjang setelah kematian.

Amal jariyah seperti jejak kebaikan yang terus hidup ketika nama seseorang perlahan mulai dilupakan manusia.

Menariknya, banyak orang baru memahami nilai amal jariyah justru ketika dunia mulai menjauh dari genggaman mereka. Saat tubuh sehat, manusia sering merasa hidup masih panjang. Ada keyakinan samar bahwa kesempatan selalu tersedia esok hari. Padahal kematian dapat datang tanpa aba-aba.

Itulah sebabnya para ulama sering mengingatkan: kehidupan dunia hanyalah persinggahan singkat, sedangkan akhirat adalah perjalanan yang sesungguhnya.

Bukan berarti Islam melarang manusia mencari rezeki atau menikmati kehidupan. Islam justru mengajarkan keseimbangan. Bekerja adalah ibadah. Menjadi kaya bukan kesalahan. Namun harta seharusnya menjadi jalan menuju kebaikan, bukan membuat hati lupa pada kehidupan setelah kematian.

Sebab pada akhirnya, akan datang satu masa ketika dunia perlahan menjauh dan akhirat semakin dekat. Pada saat itu, manusia tidak lagi sibuk menghitung apa yang dimiliki, tetapi menyesali apa yang belum sempat diberikan.

Dan sebelum detik itu tiba, kesempatan untuk meninggalkan amal jariyah sebenarnya masih terbuka lebar hari ini.

Admin YNSU

Yayasan Nur Sedekah Umat (YNSU) adalah organisasi nir labar berbentuk yayasan di bidang sosial. Memiliki semboyan: "Menggalang Potensi. Menebar Manfaat. Berkontribusi untuk Negeri. Meraih Ridhlo Ilahi."

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *