Permintaan Terakhir Seorang Hamba: “Ya Allah, Kembalikan Aku ke Dunia”

Malam terasa sunyi di ruang perawatan itu. Lampu-lampu rumah sakit menyala redup ketika seorang lelaki renta terbaring dengan napas yang tersisa sedikit demi sedikit. Di sampingnya, keluarga membacakan kalimat tauhid dengan suara lirih. Sesekali lelaki itu membuka mata, memandang wajah orang-orang tercinta seakan ingin mengatakan sesuatu yang selama ini tertahan.
Tetapi waktu sudah hampir habis.
Di detik-detik seperti itu, manusia sering melihat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda. Apa yang dulu terasa besar mendadak menjadi kecil. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun tampak tak berarti. Jabatan dan pujian manusia perlahan menghilang nilainya.
Yang muncul justru penyesalan.
Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan bagaimana manusia yang telah datang kematian memohon dengan penuh harap, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Permintaan itu bukan sekadar ungkapan takut, melainkan jeritan kesadaran yang datang terlambat.
Sebab ketika tirai kehidupan mulai tertutup, manusia akhirnya memahami satu kenyataan besar: hidup di dunia ternyata sangat singkat, sementara akhirat begitu panjang.
Ironisnya, selama masih sehat, banyak orang merasa waktu selalu tersedia. Amal baik dianggap bisa menunggu. Sedekah direncanakan nanti setelah kaya. Ibadah akan diperbaiki ketika usia tua datang. Ada keyakinan samar bahwa hidup masih panjang.
Padahal kematian sering datang tanpa aba-aba.
Ada yang pagi masih bercanda, sore sudah dikafani. Ada yang baru merancang masa depan, namun malamnya dipanggil pulang. Semua itu seakan menjadi pesan bahwa manusia sebenarnya sedang berjalan menuju akhir hidup setiap hari.
Namun dunia terlalu pandai membuat manusia lupa.
Kita hidup di zaman ketika kesuksesan diukur dari seberapa besar rumah, kendaraan, atau isi rekening. Orang rela mengorbankan waktu, kesehatan, bahkan keluarga demi mengejar kenyamanan hidup.
Tidak salah bekerja keras, sebab Islam pun memuliakan ikhtiar. Tetapi masalah muncul ketika hati menjadi terlalu cinta dunia hingga lupa menyiapkan bekal akhirat.
Manusia sibuk menambah harta, tetapi miskin sedekah. Sibuk menjaga aset, tetapi lalai membantu sesama. Banyak yang takut uangnya berkurang karena berbagi, padahal usia justru terus berkurang setiap hari.
Dan saat kematian mendekat, semuanya berubah.
Di momen sakaratul maut, manusia tidak lagi memikirkan mobil baru atau keuntungan bisnis berikutnya. Yang dirindukan justru kesempatan untuk sujud lebih lama, bersedekah lebih banyak, dan memperbaiki amal yang dulu diabaikan.
Betapa banyak orang berharap bisa kembali hanya untuk melakukan kebaikan sederhana: membantu orang tua, menyantuni anak yatim, membangun masjid, membaca Al-Qur’an, atau meminta maaf kepada sesama.
Tetapi hidup tidak pernah diputar ulang.
Karena itu Islam mengajarkan agar manusia tidak menunda amal. Rasulullah mengingatkan untuk memanfaatkan 5 perkara sebelum datang 5 perkara lainnya: masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.
Pesan itu terasa begitu dalam. Sebab yang membuat manusia menyesal setelah kematian sering kali bukan dosa besar yang spektakuler, melainkan kebaikan-kebaikan kecil yang dulu mampu dilakukan tetapi terus ditunda.
Padahal amal saleh tidak selalu harus besar. Senyum yang tulus, membantu tetangga, memberi makan orang lapar, menyisihkan sedikit rezeki untuk sedekah, atau mendukung pendidikan agama bisa menjadi cahaya yang menyelamatkan seseorang di akhirat.
Mungkin itulah mengapa permintaan terakhir seorang hamba setelah kematian bukan meminta rumah, harta, atau jabatan dikembalikan. Ia hanya ingin satu hal: kesempatan hidup sekali lagi untuk beramal saleh.
Dan selama napas masih ada hari ini, kesempatan itu sebenarnya belum terlambat bagi kita.

