“Andai Aku Bisa Kembali”: Penyesalan Terbesar Menjelang Kematian

Suara mesin monitor di ruang perawatan itu berdetak pelan. Di atas ranjang, seorang lelaki tua menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas yang mulai tersengal. Anak-anaknya berdiri mengelilingi tempat tidur. Sebagian menahan tangis, sebagian lagi sibuk membisikkan doa.
Namun di sela-sela kesunyian itu, lelaki tersebut justru mengucapkan kalimat yang membuat semua orang terdiam. “Kalau saja aku diberi waktu sedikit lagi…”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menyimpan penyesalan yang dalam. Bukan karena rumah yang belum selesai dibangun. Bukan pula karena tabungan yang kurang banyak. Yang membuat dadanya sesak justru sesuatu yang selama ini dianggap bisa ditunda: sedekah, amal saleh, dan kesempatan berbuat baik.
Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan penyesalan manusia menjelang kematian dengan sangat menyentuh. Seseorang memohon agar dipulangkan sebentar ke dunia untuk bersedekah dan menjadi orang saleh. Pada saat itu, manusia baru sadar bahwa usia ternyata jauh lebih berharga daripada seluruh harta yang pernah dikumpulkan.
Ironisnya, ketika sehat dan lapang, banyak orang merasa masih punya waktu panjang. Sedekah menunggu kaya. Wakaf menunggu mapan. Membantu orang lain menunggu masalah hidupnya sendiri selesai. Hari demi hari berlalu begitu saja, sampai ajal datang tanpa pemberitahuan.
Padahal, hidup sering memberi tanda. Ada teman yang wafat mendadak. Ada tetangga yang pagi masih bercanda, sore sudah dikuburkan. Ada kabar orang sehat yang tiba-tiba dipanggil pulang. Semua itu seperti pesan halus bahwa umur manusia sebenarnya rapuh.
Namun manusia mudah lupa.
Kita hidup di zaman ketika ukuran keberhasilan sering dihitung dari kendaraan, jabatan, atau angka di rekening. Orang bekerja keras dari pagi hingga malam demi mengejar kenyamanan hidup. Tidak salah. Islam pun mengajarkan ikhtiar. Tetapi masalah muncul ketika dunia menjadi tujuan utama, sementara akhirat hanya ditempatkan sebagai urusan nanti.
Padahal, di penghujung usia, yang paling menenangkan bukanlah saldo tabungan. Yang datang menemani justru amal-amal kecil yang dulu mungkin dianggap sepele. Sedekah diam-diam kepada tetangga. Membiayai anak yatim sekolah. Menyumbang pembangunan masjid. Memberi makan orang lapar. Membaca Al-Qur’an. Menolong orang yang sedang kesusahan.
Semua itu yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karena itulah para ulama sering mengatakan bahwa sedekah bukan sekadar membantu orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri sendiri. Amal baik adalah bekal sebelum perjalanan panjang menuju alam akhirat dimulai.
Yang menarik, Islam tidak pernah menunggu seseorang menjadi kaya raya untuk beramal. Bahkan senyum yang tulus pun bernilai sedekah. Segelas air untuk orang haus bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan. Dalam banyak kisah, justru amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas menjadi sebab datangnya rahmat Allah.
Mungkin itulah alasan mengapa penyesalan terbesar menjelang kematian bukan tentang kurangnya harta, melainkan kurangnya amal.
Sebab ketika ajal sudah di depan mata, manusia akhirnya memahami satu hal penting: kesempatan paling mahal di dunia ternyata bukan waktu untuk mencari uang, melainkan waktu untuk menambah kebaikan.
Dan kesempatan itu sedang kita miliki hari ini.

