Minimnya Teladan Sedekah di Lingkungan Muda

Di banyak tongkrongan anak muda, obrolan tentang mimpi sering berputar pada karier, side hustle, dan kebebasan finansial. Jarang terdengar kisah tentang berbagi. Bukan karena mereka enggan memberi, melainkan karena minimnya teladan yang dekat dengan keseharian mereka.
Sedekah kerap dipersepsikan sebagai urusan “orang mapan”, jauh dari fase hidup yang masih bergulat dengan uang saku dan cicilan pertama. Kekosongan figur ini terasa nyata. Di ruang publik, contoh kedermawanan lebih sering datang dari tokoh senior: pengusaha besar, filantropis kawakan, atau figur religius yang telah mapan.
Sementara di lingkungan muda—kampus, komunitas kreatif, hingga dunia startup — narasi berbagi jarang diangkat sebagai sesuatu yang relevan dan keren. Akibatnya, sedekah tampil seperti nilai ideal yang baik, tapi sulit ditiru.
Padahal, realitas di lapangan menunjukkan potensi sebaliknya. Banyak mahasiswa menyisihkan uang makan untuk donasi bencana, pebisnis muda menyisihkan laba kecil tapi rutin, atau konten kreator yang diam-diam membantu pengikutnya.
Sayangnya, kisah-kisah ini jarang naik ke permukaan. Bukan karena tak ada, melainkan karena belum dikemas sebagai inspirasi bersama.
Masalahnya bukan sekadar ketiadaan teladan, tetapi juga soal representasi. Anak muda butuh figur yang “serupa”: bergaya santai, berbicara dengan bahasa sehari-hari, dan jujur soal keterbatasan. Teladan yang menunjukkan bahwa sedekah tak menunggu kaya, tak harus besar, dan bisa dilakukan konsisten — meski dari penghasilan pas-pasan.
Di sinilah peluang menghadirkan role model baru. Mahasiswa yang rutin bersedekah dari beasiswa, pebisnis muda yang mengalokasikan sebagian omzet untuk program sosial, atau konten kreator yang menyelipkan pesan berbagi tanpa menggurui.
Gaya kekinian tak perlu ditanggalkan. Justru ia menjadi jembatan agar nilai lama terasa relevan.
Peran komunitas dan lembaga sosial juga krusial. Mereka bisa mengangkat kisah-kisah sederhana ini dengan pendekatan visual dan narasi ringan — bukan untuk pamer, melainkan menormalisasi berbagi. Ketika sedekah tampil sebagai praktik harian yang mungkin dilakukan siapa saja, ia berhenti menjadi wacana elitis.
Anak muda sejatinya tak kekurangan empati. Yang mereka butuhkan adalah contoh nyata bahwa berbagi bisa berjalan seiring dengan mimpi, gaya hidup, dan identitas mereka. Dari teladan yang dekat itulah, sedekah menemukan momentumnya kembali.

